Tren Makan Malam Tanpa Busana Berlanjut di Eropa

Posted on

MUNGKIN Anda telah mencoba berbagai macam cara untuk menikmati makan malam, dengan candle light dinner salah satunya. Biasanya orang akan memilih suasana yang nyaman dan tenang saat makan malam.

Tapi apa yang akan Anda pikirkan tentang makan malam tanpa busana? Ya, Anda akan makan malam tanpa menggunakan sehelai benang pun. Restoran serupa pertama kali dibuka tahun 2016 di London, kemudian disusul oleh Paris. Kali ini, kota Bristol di Inggris juga akan melakukan hal yang sama.

Melansir dari Metro, Jumat (23/2/2018), acara pertama dengan tema Dine Naked Bristol ini akan berlangsung di Flour and Ash di Cheltenham Road. Sedangkan yang kedua akan diadakan bulan depan pada 20 Maret di pub Greenbank, Easton. Acara Dine Naked Bristol ini dijalankan oleh Will Bryson yang biasa terlibat dalam acara perjalanan sepeda tahunan Naked City.

Will mengungkapkan bahwa acara ini tak dimaksudkan untuk sesuatu yang negatif ataupun hal yang berkaitan dengan seksualitas. Melainkan untuk membuka pikiran setiap orang, agar tak selalu memandang orang lain dari bentuk fisik ataupun status sosial.

Tempat ini akan dibuka untuk semua kalangan, termasuk untuk LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender), para penyandang disabilitas dan juga BAME (Black, Asian and Minority Ethnic). Jadi pengunjung hanya akan fokus untuk menikmati makanan yang disajikan tanpa mempedulikan kekurangan orang lain.

Saat makan malam, pengunjung juga tidak diperbolehkan membawa barang elektronik atau mengambil gambar, karena selama makan malam lampu restoran juga akan dimatikan. Harga yang dipatok untuk makan malam ini adalah £ 14 atau sekira Rp266 ribu termasuk £ 10 untuk diskon makanan dan minuman.

Selain caranya yang tidak biasa, ternyata ada nilai positif yang sebenarnya dapat dijadikan pelajaran, karena kebanyakan orang memang terkadang selalu melihat kekurangan orang lain yang menyebabkan orang tersebut tidak nyaman.

Bahkan minder dan akan berujung ke sesuatu yang negatif. Mungkin tren seperti ini dapat menjadi alternatif agar perbedaan yang ada bukan menjadi penghambat tapi malah menjadi ajang toleransi satu sama lain.

Dasar wongedan!